Jakarta, Kominfo -Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) menggelar Pameran Dekranas pada tanggal 27 September 2017 sampai 1 Oktober 2017. Pameran bertajuk Kriya Nusa itu berlangsung di Hall A dan B JCC, Jakarta. Kegiatan itu diikuti perajin Dekranasda Provinsi, Kabupaten dan Kota dari seluruh Indonesia serta pelaku kerajinan populer.

Ketua Harian Dekranas Pusat Erni Cahyo Kumolo mengatakan kegiatan itu diikuti oleh Dekranas yang ada di seluruh Indonesia. Organisasi Dekranas, menurut Erni Cahyo Kumolo dipandu oleh isteri kepala daerah masing-masing. “Semua isteri kepala daerah adalah Ketua Dekranasda di daerahnya. Jadi ada dari provinsi, kabupaten dan kota, bahkan sampai ke bawah,” jelasnya dalam Konferensi Pers Rakernas dan Pameran HUT Dekranas ke-37 di Gedung Kementerian Pertahanan, Jakarta (26/9/2017).

Sementara itu, Ketua Bidang Pameran dan KSLN Dekranas Pusat Pegy Enggartiasto Lukita menjelaskan tema Pameran Kriyanusa Tahun 2017 dimaksudkan meningkatkan kreativitas wirausaha muda dalam hal kriya Indonesia. “Kenapa kami memberikan perhatian kepada wirausaha muda? Meski ada beberapa kerajinan yang dikerjakan oleh para sepuh. Kami harapkan bahwa anak-anak muda mau ikut berpartisipasi dan juga kami berharap mereka dapat berkreasi sedemikian tanpa meninggalkan budaya yang sudah ada sehingga harapan kami hasil kreasinya itu digemari juga oleh kalangan muda,” paparnya.

Wakil Ketua Harian Dekranas Pusat Triana Rudiantara menambahkan saat ini hasil kriya Indonesia memiliki nilai sangat tinggi dan sudah diakui sejak ratusan tahun lalu. “Ini terbukti dengan kami sempat menerjemahkan buku Jasper, itu kira-kira 120 tahun lalu,” katanya. Menurut Triana, yang juga menjadi Ketua Bidang Promosi, Humas, dan Publikasi, Jasper adalah orang Belanda yang pernah menjabat gubernur di Jawa Tengah. Ia mengumpulkan kreasi-kreasi Indonesia seperti pewarnaan alam, penggunaan bahan-bahan baku alam sampai menjadi beraneka ragam motif.

Oleh karena itu, Triana mengharapkan agar Kriya Indonesia dapat dilestarikan oleh generasi penerus. “Takutnya sekarang kalau tidak ada generasi, punah, sementara kolektor di luar negeri sudah mengumpulin barang-barang Indonesia. Jadi sekarang siapa lagi kalau bukan kita-kita yang ada sekarang ini?” harapnya. (PS)